Senin, 15 Juni 2015 0 komentar

Contoh Narrative Text

     Udah lama gak buka document di komputer, pas lagi buka-buka file Word eh ketemu sama narasi bahasa inggris yang gue bikin waktu SMA kelas 2. Narasi ini bercerita tentang gue dan beberapa temen gue yang terpaksa pergi ke TMII buat ngerjain tugas bikin review tempat-tempat yang udah ditentuin sama guru gara-gara kita gak ikut study wisata ke Bali. Kalau lu nannya kenapa gak ikut, ya gue pasti jawab "duitnya bos...", semua karena uang, kan lu tau sendiri study wisata dari Depok ke Bali itu gak murah, gue aja diminta biaya satu juta lebih waktu itu, jadi karena dana tidak mencukupi akhirnya gue pergi dah ke TMII sesuai dengan amanat dari bapak-ibu guru, dikarangan ini gue nyebut Taman mini dengan sebutan little garden, kenapa? analogi aja, Taman = garden, Mini = little, jadi kalau taman mini? ya Little Garden, haha. Sampai sekarang gue gak tau kalau karangan bahasa Inggris yang berbentuk narrative bikinan gue ini bener apa enggak, soalnya selesai gue bikin gak pake gue periksa lagi dan langsung gue kumpulin, setelah dikumpulin gak tau lagi gimana nasib karangan gue, entah bener apa enggak, tapi tiba-tiba gue udah lulus SMA aja, jadi jangan dipake sembarangan nih karangan, kalau pun dipake gue angkat tangan dah.
 
 
 
Walk To Little Garden

    A few week ago I went to an amusement park named Taman Mini Indonesia Indah. This place can be called as little Indonesia because this place can describe about Indonesian culture generally in a museum form. I went to this place not just for having fun but also to do some task that have been given by teacher as a consequence for not participating in a school trip.
In this place I must observing three places that had decided by teacher namely Bali museum, Yogyakarta museum, and technology museum. I went there by my friend car at eight past thirty and arrived at Taman Mini Indonesia Indah or in short I called it “Little Garden” at eleven o’clock. The first place I went was Bali museum. 
    In this museum I saw many things that have connection with Bali like a Leak mask, Balinese traditional clothes, Balinese musical instrument, and some traditional Balinese dance properties. That museum was consisted from some traditional house that have arranged in such a way. There were sixteen traditional  buildings in that area namely Candi Bentar, Bale Bengong, Sanggah Penuggun Karang, Bale Wantilan, Bale Paruman, Kori Agung, Bale Aling – Aling, Bale Rangki, Bale Gede, Bale Dauh, Bale Loji, Bale Jineng, Bale Paon, Sanggah Pengijeng, and the last was Merajan. Every building in that place have very own purpose in the community life.
    After observing museum of Bali I went to the next place, museum of Yogyakarta. Unfortunately when I came there was some kind of event that held in that museum which make these place so crowded with people,
so I can’t get enough information about that place and I had forced to use internet as my source for that task. This make me a little disappointed. Before continuing the trip, time had showed lunch time so I and my friends think we must had a rest first. We went to a fast food restaurant, but you know what? Actually I had brought my own lunch. When I had take a sit inside I saw a message that said a costumer was not allowed to bring their own food inside. Oh man that was very disappointing cause I just can watch my friends eating so happily, but actually I could ate my own food if only I was a bad person,
unfortunately I'm the type of person with high sense of justice who is always trying to not break the rules no matter how small it is.
    Felling fuel we continued our trip to the last place, the museum of technologies. First time you went there you will be welcomed by a big plane tire in front of the ticket counter. Getting inside you’ll see lot of props that are useful in scientific experiment. I was very excited with this place, this place was make me as curious as a child, fortunately you are not there when I act like a child, that would be very embarrassing. That place in this case the museum had an auditorium too which used as playback for an educational films. Fortunately I came at the right
time to see the movies so I get in, take a seat and watch the film peacefully. As were commonly, after playing the film the auditorium had change into an open lab so every visitor can see and participating in a scientific experiment using real props just like a scientist did. Don’t be afraid to participating, there was an experienced guide that will oversee any action of yours in any single experiment. At least there was three experiment that were performed. Before I had forget, the ticket price to get in to “Little Garden” was fifteen thousand rupiah and for the museum of technologies was sixteen thousand and five hundred rupiah. How about the other? Don’t worry they were free. Back to the story, after I feel that I had enough fun and information I told my friend that we should go home now. Then not so long we was on the way back to home.


(Based on true stories of Lungun Ali Rusky Simbolon a student from 11 Science 3 class about his journey to the “Little Garden” and the most important is he make this by himself or in this case, I made this by myself.)
 
0 komentar

Majalah Sejarah Jasmerah

    Suka sejarah? kalau suka gue mau kasih sedikit rekomendasi buat nambah wawasan lo soal sejarah. Ini dia majalah yang gue rekomendasiin, namanya JASMERAH. 


Majalah ini berbentuk PDF dan lahir dari salah satu forum di KASKUS, yaitu forum sejarah dan xenology. Sampai saat ini udah 5 edisi majalah yang keluar dan gue baru download 3, maklum kuota tipis. Setiap baca majalah ini gue selalu dapet informasi baru yang belom pernah gue tau sebelumnya, misalnya tentang tragedi Heysel, ini adalah tragedi yang menyangkut dunia persepakbolaan, soalnya tragedi ini terjadi karena dua suporter klub sepak bola saat itu saling baku hantam di Stadion Heysel, Brussels, Belgia. Tragedi ini terjadi pada 29 Mei 1985, tepatnya waktu digelarnya pertandingan final Liga Champions antara Juventus VS Liverpool. Waktu itu yang nonton mencapai angka 60.000 penonton, bisa dibayangin sebanyak apa? pokoknya banyak, awalnya memang suportert dari masing-masing tim udah dipisah tempat duduknya, tapi singkat cerita kesalahan terjadi dan terjadilah keributan yang memakan korban sebanyak 600 orang mengalami luka-luka dan 39 orang meninggal dunia. Gue seumur hidup yang udah 20 tahunan ini baru tau kalau misalnya ada tragedi yang terjadi gara-gara sepak bola bahkan sampai ada korban meninggal dunianya.
    Don't judge book by it's cover, nah kalau ngomongin sampul gue rasa ini majalah udah punya cover yang oke buat menarik minat untuk baca. Isi? jangan tanya,
udah oke kok, bahkan kalau menurut gue udah layak kalau misalnya mau dicetak untuk dijual secara luas, tapi untungnya ini dengan isi sebagus itu majalah jas merah ini masih gratis, hehe.
dalam majalah ini udah ada berbagai macam topik yang menarik untuk dibaca, nah isinya dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu topik utama, berita, kisah, dwibulan, biografi, resensi, lain-lain, lain-lain disini bukan maksudnya dll yang artinya sama kaya dan semacamnya atau dan sebagainya, tapi maksudnya ini rubrik yang gak masuk dalam kategori rubrik sebelumnya.
Selain topik utama dan rubrik lainnya, gue paling suka sama bagian Veni, Vidi... itu bagian yang isinya trivia, tau trivia kan? itu loh informasi kecil-kecil, biasanya awalnya itu "tahukah kamu?", pokoknya kaya gitu dah, nah si "Veni, Vidi..." ini adanya dibagian akhir majalah.
    Pertama kali gue baca mungkin gue agak ragu sama kebenaran isi dari majalah ini, secara kan ini majalah sifatnya free dan cuma untuk menambah pengetahuan, bahkan
di halaman 3 pada setiap edisi ada tulisan yang menegaskan kalau majalah ini murni untuk menambah wawasan dan informasi para pembacanya tanpa ada afiliasi dari pihak manapun.
Bisa dibilang kalau majalah ini isinya bisa dipertanggung jawabkan, karena toh majalah ini lahir dari forum, dan kalau misalnya ada kesalahan pada isi majalah
tersebut ya sudah pasti para anggota forum lainnya akan bersuara, tapi sampai saat ini sih belom ada kedengaran adanya permasalahan yang menyangkut isi dari majalah ini.
    Gimana setelah gue kasih rekomendasi? seneng kan? tapi mungkin senengnya sampe disini aja, kenapa? soalnya udah setahun lebih majalah ini gak terbit lagi, terakhir itu
keluar edisi Februari-Maret 2014 dengan judul "Dinasti Ming" sedangkan sampai sekarang udah Juni tahun 2015 belom ada majalah baru yang terbit padahal seharusnya majalah ini terbit dwibulanan setiap tanggal 22. Gue juga gak tau kenapa majalah ini berhenti terbit, tapi sangat disayangkan majalah ini sampai berhenti terbit, sebagai seorang pembaca gue cuma bisa berharap kalau nanti majalah ini bakal diterbitin lagi atau majalah yang menambah wawasan seperti ini makin banyak nantinya, amin.
    Akhir kata, kalau mau tau dan download 5 majalah yang udah terbit bisa langsung ke KASKUS, nanti tulis aja di kotak pencariannya itu majalah jasmerah, atau jasmerah aja juga bisa, terima kasih.
Minggu, 14 Juni 2015 0 komentar

Skripsi Dihapuskan?

    Lagi iseng jalan-jalan di Kaskus eh ketemu Hot Thread yang judulnya menggelitik hati untuk dibahas. "Dilema skripsi, dihapus atau tidak?" itu judul threadnya, di buat oleh agan charlies208590. 




Waktu gue baca, thread itu berisi kumpulan berita tentang permasalahan mengenai skripsi yang diambil dari berbagai sumber. Selain itu ada juga polling yang dibuat oleh TS yang isinya setuju atau tidak setuju mengenai penghapusan skripsi ini. Kalau gue liat isi dari thread ini lengkap, mulai dari pengertian dari skripsi bahkan sampai adanya poling, dan gak lupa dengan cantuman komentar dari para user lain yang bermutu juga ditambahakan di bagian akhir.
    Gue sebagai ABK alias "anak baru kuliah", iya, gue sekarang baru kuliah semester 2. Sebenernya gue masih belom mikirin sama sekali soal skripsi-skripsian, tapi berhubung ini menyangkut masa depan gue juga akhirnya gue mulai mikirin soal skripsi-skripsian.
Kalau denger cerita soal skripsi dari kakak-kakak dan abang-abang yang udah lebih berpengalaman dari gue, kesimpulan yang bisa gue ambil dari cerita mereka adalah bahwa
masa-masa "penciptaan" skripsi adalah masa-masa yang berat dan banyak menguras tenaga, emosi, dan mungkin juga dompet. Beratnya masa itu dimulai dari pengajuan judul dan yang paling ditakutkan adalah kata "revisi", kalau cerita dari kakak-kakak dan abang-abang itu disamain kaya genre film mungkin masuknya ke horror kali ya? atau ada pendapat lain?. Berhubung dengan postingan yang gue baca soal pro kontra dihapuskan atau tidaknya sistem sikripsi ini, gue akhirnya mikir kalau misalnya ini keuntungan buat gue nanti, kenapa? jelas gue akan diuntungkan dengan tidak berlelah-lelah dalam hal membuat skripsi yang horror itu, tapi kalau misalnya skripsi itu adalah bagian dari persyaratan kelulusan seorang mahasiswa berarti nanti gue lulusnya diliat dari faktor apa? nah loh, disini gue bingung.
    Dulu sebelum tahun 2000 sistem kelulusan dikenal dengan ujian dikenal dengan nama EBTANAS, trus berubah ke UASBN, hasbis itu ke UN. Liat polanya? memang yang lama
bisa diakatakan dihapus, tapi bukan dihapus secara penuh, melainkan diganti ke sistem yang baru dengan nama yang baru pula. Mendengar desas-desus tentang dihilangkannya skripsi dari syarat kelulusan seorang mahasiswa berarti akan ada sistem baru yang menggantikannya apabila hal itu benar-benar terjadi. Berarti cuma ada dua kemungkinan kalau misalnya jadi dihapus si skripsi ini, labih baik atau lebih buruk.
    Kalau ditanya pendapat gue, gue sendiri masih bingung antara setuju atau enggak, di satu sisi hati gue bergembira ria, tapi disisi lain hati gue yang biasa menerima
tantangan merasa ada yang kurang. Gue adalah orang yang akan menghadapi apa yang memang harus dihadapi, dulu waktu temen gue pengen UN dihapuskan, gue cuma menyerahkan semuanya sama pemerintah dan tetap belajar, dihapuskan atau tidak itu urusan mereka, kalau dihapus ya syukur kalau enggak toh gue udah belajar, iya kan? nah begitu juga dengan masalah skripsi ini, dihapus ataupun enggak, tetap gue bakal bersiap-siap untuk hal semacam ini.
    Jadi gimana menurut kalian? dihapus atau tidak sih gue harap pemerintah punya cara untuk membuat kualitas pendidikan jadi lebih baik, iya kan?
 
;