Senin, 09 Oktober 2017 1 komentar

International Primate Protection League





                     IPPL (International Primate Protection League) adalah sebuah organisasi yang bergerak dalam bidang pelesatarian alam. IPPL merupakan sebuah organisasi  nonprofit yang didedikasikan untuk melindungi primata yang tersisa di dunia. Organisasi ini selain melakukan usaha penyelamatan secara global juga memiliki sebuah penangkaran di Carolina selatan, Amerika, untuk menampung Siamang (Primata yang terkecil dari jenisnya). Tujuan dari IPPL adalah untuk melindungi primata dari kekejaman manusia dan mengkampanyekan sebuah dunia dimana para primata dapat hidup di habitat aslinya.
IPPL berfokus pada :
  • Menawarkan saran dan bantuan finansial untuk mendukung kegiatan positif yang menyangkut primata, baik di Amerika maupun diluar Amerika
  • Memberikan bantuan finansial kepada pusat penyelamatan primata atau organisasi lainnya yang membantu melindungi primata di habitat aslinya di negara dimana primata tersebut breada
  • Memberitakan keadaan primata yang mengalami kekerasan dan menggalang kampanye internasional
  • Menjalankan penangkaran di Carolina selatan untuk menampung siamang yang telah menjadi objek penelitian laboratorium, hewan peliharaan yang dibuang dan dari kebun binatang.

Sumber : IPPL
1 komentar

International Committe of The Red Cross



 
                     ICRC (International Committe of The Red Cross) adalah sebuah organisasi internasional yang bergerak dalam bidang kemanusiaan. Organisasi ini bersifat independen dan netral sehingga menjamin kegiatan perlindungan kemanusiaan dan pemberian bantuan kepada korban perang. Pekerjaan utama ICRC adalah menolong orang-orang yang menjadi korban perang dan mengkampanyekan hukum yang melindungi korban perang. Organisasi ini didirikan pada tahun 1863 dan berbasis di Jenewa, Swiss. 
                Sumber dana organisasi ini berasal dari donasi yang bersifat sukarela dan diterima sebagai sumbangan berdasarkan dua jenis permintaan yang diajukan oleh Komite: Appeal Kantor Pusat yang bersifat tahunan untuk menutup biaya-biaya internal dan Appeal Darurat untuk misi-misi yang bersifat per kasus. Pendanaan ICRC berasal dari tiga kategori, yaitu negara, swasta dan perhimpunan nasional. Negara-negara penyumbang ICRC antara lain Swiss, Amerika Serikat, Australia, Kanada, Jepang, Selandia Baru, Negara-negara Eropa lainnya, dan Uni Eropa. Negara-negara ini menyumbang sekitar 80-85% dari anggaran ICRC. Sekitar 3% berasal dari hibah pihak swasta, dan sisanya berasal dari perhimpunan nasional.
                 Pertemuan pertama cikal bakal berdirinya ICRC terjadi pada bulan Februari tahun 1863 di Jenewa, Swiss. Pendirian ICRC dipelopori oleh seorang warga Swiss bernama Henry Dunant yang setahun sebelumnya mengeluarkan buku Souvenir of Solferino. Buku tersebut berisi cerita tentang korban perang yang terlantar yang ia lihat di daerah Solferino, Italia. Akhir tahun 1863 perwakilan pemerintah Swiss telah menyetujui proposal Dunant tentang pendirian organisasi yang bertujuan untuk membantu penanganan medis para korban perang. Agustus 1864, sebuah perjanjian terlahir di konvensi Jenewa, perjanjian ini mewajibkan penanganan medis terhadap setiap tentara yang terluka secara setara tidak peduli dipihak siapa mereka berada. Perkembangan berikutnya terjadi pada saat perang dunia 1 dan perang dunia 2.
                  Semenjak tahun 1945, ICRC terus mendorong pemerintah unuk memperkuat hukum humanitarian internasional dan menghormatinya. Tahun 1949, ICRC mengeluarkan sebuah revisi atas konvensi Jenewa yang sebelumnya berisi tentang kondisi dimana ICRC bekerja, yaitu pemulihan korban yang sakit dan terluka di medan perang, korban perang di lautan, dan tahanan perang ditambahkan satu kondisi lagi berupa perlindungan terhadap warga yang berada dibawah kekuasaan musuh. 


Sumber : ICRC, Wikipedia
1 komentar

PROFAUNA


               PROFAUNA (Protection of Forest & Fauna) Indonesia adalah organisasi perlindungan hutan dan satwa liar yang didirikan oleh dua orang aktivis lingkungan yaitu Rosek Nursahid dan Made Astuti pada tahun 1994 di Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia. Rosek dan Made adalah seorang biolog yang sejak muda gemar mengunjungi tempat-tempat yang menjadi habitat satwa liar. Pada awalnya PROFAUNA bernama Konservasi Satwa Bagi Kehidupan, yang kemudian pada tahun 2002 berubah nama menjadi PROFAUNA Indonesia.
              Ide pendirian PROFAUNA muncul setelah pada tahun 1990-an Rosek mengunjungi beberapa pasar burung di Jakarta. Di pasar burung tersebut Rosek menemukan banyak satwa langka yang dijual bebas, seperti orangutan, siamang, kakatua, beruang madu, cendrawasih, dll. Padahal semestinya perdagangan satwa langka itu terlarang karena satwa-satwa tersebut telah dilindungi undang-undang.
              Keprihatinan akan maraknya perdagangan satwa langka itu yang mendorong Rosek dan Made mendirikan PROFAUNA yang kemudian kini menjadi organisasi grassroot terbesar di Indonesia untuk perlindungan satwa liar. Pada tahun 2014, PROFAUNA memperbesar porsi kampanye perlindungan hutan Indonesia, selain tentu saja tetap berjuang juga untuk pelestarian satwa liar. Meningkatnya perhatian PROFAUNA akan isu hutan tersebut ditandai dengan bergantinya logo PROFAUNA dari logo bergambar seekor lutung menjadi logo yang dipakai sekarang ini yaitu bergambar hutan dan primata.
            Organisasi ini beranggotakan orang-orang yang memiliki kesamaan dalam pemahaman mengenai pelestarian alam. Keanggotaan dalam organisasi ini aak berbeda dengan organisasi biasanya, dalam organisasi ini anggotanya dikenal dengan istilah supporter. Sebelum bisa menjadi seorang supporter orng yang ingin mendaftar harus mengirimkan formulir pendaftaran kepada pihak PROFAUNA dan kemudian membayar donasi minimal sebesar Rp 100.000. Supporter yang memang serius dapat memiliki KTS  atau kartu tanda supporter, kartu ini tidak dapat diperoleh sembarangan karena harus melewati tes terlebih dahulu. Proses untuk mendapatkan KTS adalah dengan mengikuti pendidikan dan latihan dasar yang disebut PROFAUNA CAMP yang dilakukan setiap dua tahun sekali di Malang, apabila lulus maka akan mendapatkan KTS dan bila tidak maka dapat mencoba kembali di PROFAUNA CAMP dua tahun yang akan datang.

Sumber : PROFAUNA
 
;